Connect with us

KABAR INSPIRATIF

Mu’tazilah, Al Ghazali dan Hilangnya Budaya Berfikir Rasional

Published

on


Mu’tazilah, Al Ghazali dan Hilangnya Budaya Berfikir Rasional

(Budaya dan Pengaruhnya terhadap Kemunduran Peradaban Islam)

Oleh : Mira Atil Hayati

Hancurnya Kekuasaan Politik dan Hilangnya Peradaban

Hancurnya kekuasaan politik Abbasiyah merupakan cikal bakal kemunduran ilmu pengetahuan dalam Islam. Bagaimana tidak, kekuasaan yang adil, aman dan makmur menjadi fasilitator dalam menjamin perkembangan ilmu pengetahuan. Sebuah kegiatan keilmuan membutuhkan biaya dan para ilmuwan membutuhkan kemakmuran juga keamanan sebagai sarana dan prasarana untuk dapat menjalankan aktifitas keilmuan. Sebelum kehancuran Baghdad, Baitul Hikmah merupakan fasilitator dalam menjalankan kegiatan pengembangan keilmuan di dunia Islam. Setelah serangan bangsa Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan ke Baghdad, semua fasilitas untuk perkembangan dan kegiatan keilmuan umat Islam tersebut hancur dan musnah. Dengan jatuhnya Baghdad oleh bangsa Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan, bagaimana kelanjutan dampaknya kepada keilmuan umat Islam?

Abad ke 13 Masehi tepatnya pada tahun 1258 M merupakan masa dimana hancurnya kota Baghdad yang saat itu sebagai pusat keilmuan dunia dan dengan serta merta memusnahkan ribuan bahkan jutaan hasil karya ilmuwan muslim. Baitul Hikmah saat itu sebagai tempat penelitian, perpustakaan dan juga wadah kegiatan keilmuan dalam pengembangan ilmu pengetahuan turut serta dibumi hanguskan. Jalaluddin As-Suyuti menuliskan komentar Al-Muwaffaq tentang serangan bangsa Mongol ini di dalam kitabnya Tarikh Al-Khulafa di halaman 546-547, “Tentang tragedi Baghdad dan Kaum Tartar ini, Al-Muwaffaq berkata mengenai orang-orang Tartar ini. “Jika kita berbicara mengenai orang-orang Tartar, maka kita seakan-akan membicarakan satu masalah yang menelan masalah yang lain, membicarakan satu kabar yang menyita habis kabar lain, membicarakan sejarah yang seakan menghapus sejarah lain, membicarakan satu bencana yang membuat bencana lain terasa kecil, satu kejahatan yang memenuhi seluruh penjuru dunia”.

Pembantaian yang dilakukan terhadap  warga sipil termasuk juga para ilmuwan muslim  berdampak kepada perkembangan keilmuan Islam. Sejarawan Islam Abdullah Wassaf mengatakan penyiksaan warga kota Baghdad mencapai beberapa ratus ribu orang. Ian Frazier dari The New Yorker di dalam tulisannya Annals of History : Invaders : Destroying Baghdad, memperkirakan bahwa korban jiwa bervariasi dari dua ratus ribu hingga satu juta orang.

Mengingat kota Baghdad merupakan kota metropolitan pada waktu itu, tidaklah heran kalau jumlah korban dapat mencapai satu juta jiwa.
Dikutip dari buku Sejarah Islam Klasik, Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam karangan Prof. Dr. Musyrifah Sunanto di halaman 179. “Tentara Mongol menyembelih seluruh penduduk dan menyapu bersih Baghdad dari permukaan bumi. Dihancurkanlah segala macam peradaban dan pusaka yang telah dibuat beratus-ratus tahun lamanya. Diangkut kitab-kitab yang telah dikarang oleh ahli ilmu pengetahuan bertahun-tahun lalu dan dihanyutkan kedalam Sungai Tigris sehingga berubah menjadi hitam lantaran tinta yang larut”. 

Merosotnya perekonomian umat Islam di Baghdad setelah mengalami kehancuran juga turut mempengaruhi aktifitas keilmuan, dikarenakan jalannya aktifitas keilmuan juga perlu sokongan dana dari perekonomian. Pada masa kekuasaan Abbasiyah kegiatan keilmuan dan penelitian didanai secara langsung oleh pemerintahan yang berpusat di Baitul Hikmah. Setelah kehancuran Baghdad oleh bangsa Mongol, pendanaan tidak ada lagi, semua fasilitas publik musnah dan kegiatan keilmuan terhenti.

Walaupun di belahan dunia Islam yang lain berdiri kekuasaan yang menggantikan kekuasaan di Baghdad seperti dinasti Mughal yang berkuasa di India, dinasti Safawi di Persia dan dinasti Utsmani di Turki, namun ketiga kekuasaan besar Islam itu tidak memiliki perhatian khusus kepada ilmu pengetahuan, sehingga semangat keilmuan perlahan-lahan hilang. Ketiga kekuasaan besar Islam itu lebih dihadapkan kepada situasi politik untuk mempertahankan dan memperluas kekuasaan.  

Mu’tazilah, Al-Ghazali dan Budaya Berfikir Rasional

Muktazilah adalah sebuah aliran kalam yang memiliki ciri khas yang kuat kepada rasionalitas berfikir. Pada awalnya aliran ini hanya berkutat pada masalah pemikiran kalam saja, tetapi pada perkembangan selanjutnya, aliran ini ikut andil dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak dari para intelektual Islam bahkan sebagian pemuka agama yang terpengaruh dengan aliran ini karena lebih banyak menggunakan rasio dan akal.

Mu’tazilah berkembang pesat pada masa pemerintahan khalifah Baghdad. Terangkatnya al Ma’mun yang menganut paham Mu’tazilah menjadi khalifah, kedudukan Mu’tazilah kemudian berubah menjadi mazhab resmi negara. (lihat Harun Nasution, 1996 : 77)

 Al Ma’mun adalah seorang intelektual yang cerdas, pintar dan cinta kepada ilmu pengetahuan. Ia memindahkan ibu kota Abbasiyah dari Al Hasyimiah yang didirikan di dekat kota Kuffah ke Baghdad, sehingga dengan demikian kota Baghdad menjadi jantung dan pusat segala kegiatan masyarakatnya. Terutama sebagai pusat peradaban baik dalam bidangseni, politik, agama dan ilmu pengetahuan. (lihat Harun Nasution, 1996 : 64)

Bergesernya kebudayaan umat Islam zaman Abbasiyah yang memiliki semangat tinggi akan ilmu pengetahuan membuat perubahan besar dalam sejarah keilmuan Islam. Walaupun pada akhir kekuasaan Abbasiyah mu’tazilah bukan lagi sebagai mazhab resmi negara, tetapi pengaruh cara berfikir mu’tazilah di bidang ilmu pengetahuan masih ada. Setelah kedatangan Hulagu Khan, semuanya dimusnahkan mulai dari penduduknya hingga seluruh bangunannya di bumi hanguskan. Pengaruh ini kemudian hilang setelah pembantaian besar-besaran yang dilakukan oleh Hulagu Khan, sehingga tradisi berfikir rasional yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan perlahan-lahan hilang. Kemudian yang tinggal hanyalah umat Islam yang jumud, dipenuhi khurafat, tahayul sehingga keilmuan tidak lagi berkembang.

 Diantara penyebab lain dari hilangnya kebudayaan berfikir rasional dalam Islam ialah dipengaruhi oleh pemikiran Abu Hamid Al Ghazali. Apakah pemikiran dari Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Tahafut al Falasifah benar-benar mengubah pola pikir dan minat keilmuan umat Islam kepada ilmu agama dan kemudian berdampak pada stagnansi keilmuan umat Islam. 

Sebagian orang beranggapan bahwa imam Al Ghazali bertanggung jawab atas kemunduran sains dalam Islam. Mereka berpandangan bahwa dengan pemikiran imam Al Ghazali yang cenderung kepada ilmu agama dan menolak filsafat mengakibatkan orang-orang Islam berpaling dari sains kepada ilmu agama. Tentunya pandangan mereka ini mempunyai dasar-dasar dengan melihat kepada serangan-serangan yang ditujukan oleh imam Al Ghazali kepada para filosof dan di ikuti dengan penerbitan karangannya yaitu Tahafut Al Falasifah.
 Dikutip dari jurnal 
Science and Technology in Medieval Islam yang senada dengan argumen di atas, ”Famously, a theologian by the name of Al-Ghazali argued in his book, The Destruction of Philosophy, that reason should not be trusted and that it could not tell you anything about God. Science and philosophy was criticized and, he said, could lead to hell. More and more, schools and academies were forced to limit their teaching to theology. The sciences were divided into approved “Islamic Sciences” which were connected to religion, and “Foreign Sciences”.

Namun demikian, ada juga orang yang berbeda pandangan dengan golongan di atas. George Saliba seorang sejarawan terkemuka peneliti peradaban Islam, menantang mereka yang bersikukuh dengan pandangan tersebut untuk menjawab pertanyaan: jika benar imam Al Ghazali menyebabkan kemunduran sains bagaimana menjelaskan tetap munculnya hampir puluhan saintis dalam setiap disiplin ilmu setelah masa imam Al Ghazali? Bahkan dalam beberapa segi lebih hebat dari sebelumnya. 

Pada dasarnya, pertentangan-pertentangan al-Ghazali dengan para filosof muslim tidaklah terletak pada keseluruhan ilmu pengetahuan, melainkan terbatas pada kajian filsafat tentang masalah “ketuhanan” (metafisika). Ia hanyalah menyerang dengan tuntas aspek metafisik dari filsafat al-Farabi dan Ibnu Sina, terutama diserangnya dari aspek metafisika ini (Ahmad Syafi’I Ma’arif, 1985 : 7). Ia hanya menentang logika atau penggunaan penalaran, yang ia tentang adalah klaim akal untuk mengetahui seluruh kebenaran (Sayyed Hossein Nasr, 1981 : 71).

Berdasarkan kepada pandangan-pandangan ini, menunjukkan bahwa Islamisasi dalam bentuk pembersihan pemahaman filsafat yang merusak dan konseptualisasi keilmuan yang dilakukan oleh Imam Al Ghazali, bukanlah faktor yang menyebabkan kemunduran sains dalam Islam. Walaupun demikian, persepsi keliru orang-orang pada masa itu dalam memahami pemikiran imam Al-Ghazali tetap mempengaruhi semangat keilmuan, karena dilihat dari figur seorang Abu Hamid Al Ghazali yang di gelari sebagai Hujjatul Islam, tidak dapat menafikan ketiadaan dari pengaruh yang ditimbulkan dari pemikiran-pemikirannya terhadap filsafat apalagi terhadap orang awam pada masa itu yang kemudian berdampak kepada beralihnya semangat keilmuan kepada bidang ilmu agama oleh sebagian orang atau golongan. Disisi lain para teolog konservatif juga turut andil memaksakan kembali kepada keyakinan ortodoks dan menolak ilmu asing. 

Pada masa pertengahan, yakni antara tahun 1250-1800 M adalah fase kemunduran dari intelektual umat Islam, karena filsafat mulai dijauhkan dari umat Islam. Di samping itu, pengaruh tarekat-tarekat bertambah mendalam dan bertambah meluas di dunia Islam. Pendapat yang ditimbulkan di zaman disintegrasi ini bahwa pintu ijtihad telah tertutup diterima secara umum di zaman ini. Perhatian pada ilmu-ilmu pengetahuan sedikit sekali. Ilmu pengetahuan di dunia Islam mengalami stagnasi. Tarekat-tarekat diliputi oleh suasana khurafat dan supertisi. Umat Islam dipengaruhi oleh sikap fatalistis, sehingga dunia Islam dalam keadaan mundur dan statis. (Lihat Harun Nasution, 1985 : 83-88). Perubahan budaya berfikir masyarakat terlihat sangat kontras jika dibandingkan dengan di masa Abbasiyah sebelumnya.

Renaisans dan Dijajahnya Umat Islam

Bangsa Barat bukanlah apa-apa tanpa umat Islam. Orang-orang Barat tidak akan pernah maju tanpa kehadiran umat Islam. Mungkin kalimat ini memang terdengar sangat arogan, tapi seperti itulah kenyataan yang terjadi setelah umat Islam menginjakkan kakinya di tanah Eropa. Melihat prestasi sejarah umat Islam dalam membangun peradaban umat manusia terutama bagi dunia Barat yang sekarang maju dalam keilmuan karena mengadopsi dan mengembangkan keilmuan dari umat Islam, tentunya ungkapan tersebut bukanlah sebuah bualan atau khayalan belaka. Akan tetapi, ungkapan itu hanyalah berlaku untuk masa lalu dan bagaimanapun juga tidak akan dapat mengubah ketertinggalan umat Islam sekarang ini. Semuanya sudah terbalik dan sekarang umat Islam-lah yang bukan apa-apa tanpa bangsa Barat dan umat non-Islam secara umum.  

Renaisans yang dimulai pada abad ke 15 Masehi di dunia Barat perlahan-lahan mulai memperlihatkan benang merah ketertinggalan umat Islam yang saat itu kembali jumud dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Renaisans menjadi awal mula bagi kemajuan bangsa Barat berupa perkembangan dan perubahan besar-besaran pada tatanan sosial ilmu pengetahuan dan kebudayaan bangsa Barat.

Memasuki abad 18, dunia Islam mengalami kemunduran hingga pada tingkat terendah yang kemudian umat Islam menjadi bangsa terjajah oleh bangsa-bangsa Barat. Hal ini menginsafkan dunia Islam akan kelemahannya dan menyadarkan umat Islam bahwa di Barat telah timbul peradaban yang lebih tinggi dari peradaban Islam. Bangsa Eropa memulai hegemoninya terhadap bangsa-bangsa Timur dan Islam. Dan bahkan pada abad 19, Eropa secara terang-terangan menjadikan dirinya sebagai imperialism dunia karena telah didukung oleh kekuatan politik, kekuasaan dan militer.

Pada masa ini, bermunculan tokoh-tokoh pergerakan dan pembaharuan para pemikir Islam yang handal. Mereka menjadi pioner pembaharuan dalam Islam. Ajaran Islam dirasionalisasikan dan difahami dalam konteks ke-kini-an dan kemodernan. Islam difahami tidak hanya dari sudut pandang lokal, tetapi juga dalam perspektif universal dan kontekstual. Barulah pada masa ini umat Islam mulai membuka cakrawala pemikiran mereka dan belajar dari Barat. Untuk memulai itu semua, para tokoh pembaharu Islam dihadapkan pada bagaimana mengubah kondisi kebudayaan umat Islam yang saat itu jumud dan sulit menerima perkembangan. Hingga sekarang, umat Islam sangatlah ketergantungan dengan asupan sains dan teknologi dari bangsa Barat dan umat non-Islam secara umum. 


Integrasi Keilmuan dan Kebudayaan sebagai Langkah Gebrakan

Perubahan budaya keilmuan umat Islam bukanlah suatu proses yang instan melainkan panjang dan beruntut. Di mulai dari musnahnya Baitul Hikmah sebagai pusat keilmuan Islam di Baghdad yang merupakan sarana perkembangan keilmuan. Pembantaian besar-besaran penduduk termasuk di dalamnya ilmuwan sebagai penggerak keilmuan oleh Hulagu Khan. Pemusnahan ribuan bahkan jutaan karya-karya hasil penelitian umat Islam. Hulagu Khan melenyapkan satu peradaban keilmuan yang jika ingin ditumbuh bangkitkan kembali akan membutuhkan waktu berabad-abad lamanya. 
Kemudian diikuti dengan perubahan budaya berfikir yang terbuka dan rasional umat Islam sebagai ciri  khas mu’tazilah di masa kekuasaan Abbasiyah. Persepsi keliru terhadap karya Tahafut Al-Falasifa hingga kebudayaan berfikir yang perlahan-lahan hilang, berdampak kepada kemunduran ilmu pengetahuan.

Hilangnya budaya dan tradisi keilmuan umat Islam seperti di zaman Abbasiyah, merupakan inti dari terjadinya kemunduran keilmuan. Sedangkan di sisi lain, saat itu keilmuan bangsa Barat sudah mulai bangkit dengan adanya Renaisans,sehingga menjadikan umat Islam yang hingga abad ke 18 Masehi masih jumud (statis) menjadi tertinggal begitu jauh dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan.

Untuk saat ini maka sangatlah penting bagi negara-negara Islam untuk memberikan fokus yang besar dalam menjaga integrasi budaya dan keilmuan agar tidak terjadi sebagaimana di masa lalu terhadap perkembangan keilmuan umat Islam. Bagaimana tidak, suatu negara akan dapat dijajah oleh bangsa lain secara tidak langsung hanya dengan pengaruh hegemoni budaya dengan menciptakan ketergantungan, dan seperti itulah yang terjadi pada saat sekarang ini di kebanyakan negara-negara muslim. Umat Islam disuguhkan hasil instan dari kemodernan produk Barat dan non-muslim. Sehingga umat Islam secara tidak langsung dikendalikan oleh ketergantungan dari hasil perkembangan ilmu pengetahuan buatan Barat dan non-Islam.

Integrasi keilmuan haruslah diberi perhatian khusus oleh pemerintah untuk dapat menciptakan kedaulatan kebudayaan. Maka dari itu diperlukan langkah-langkah yang dapat diterapkan sebagaimana yang dilakukan oleh khalifah di masa Abbasiyah sebelumnya, diantaranya:

      Penjaminan biaya kegiatan keilmuan oleh pemerintah
      Penyediaan fasilitas keilmuan secara besar-besaran
      Peningkatan mutu pendidikan
      Pengerahan massa secara besar-besaran untuk mengadopsi dan menyerap keilmuan Barat kemudian dikembangkan. 
Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Unknown

    Januari 14, 2019 at 1:16 am

    Wah artikelnya sangat membantu gan semakin membuka mata kita akan pentingnya peradaban budaya..dan mengubah pola pikir kita terhadap imam Al Ghazali juga mutazilah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terkini

Tips Menghindari Informasi Hoax Seputar Covid-19

Published

on

Cara menghindari informasi hoax covid 19

Saat ini, pandemi Covid-19 di Indonesia masih belum usai, Dan Di tengah pandemi virus corona covid-19, makin banyak saja berita hoaks yang berseliweran di media sosial, seperti Facebook Twitter,instagram mupun media sosial lain. Dan Kabar hoaks ini tentunya menimbulkan banyak keresahan bagi para pembacanya.

Lantas, bagaimana cara membedakan informasi asli dengan kabar hoaks yang sering beredar di media sosial? Kali ini kami akan menyampaikan beberapa poin atau hal yang dapat dilakukan, agar kita terhindar dari informasi hoax.

1. Berhati-hati dengan Judul yang Provokatif

Membaca judul sebuah artikel merupakan cara yang sangat mudah untuk mengetahui kebenaran dari faktanya. Biasanya, berita hoaks menggunakan judul yang sangat provokatif dan bombastis untuk menarik emosi pembaca.

Saat judulnya provokatif, biasanya isi berita menggunakan format penulisan yang asal-asalan. Banyak berita hoaks yang semua hurufnya menggunakan kapital dan di-bold. jadi intinya jangan mudah terprofokasi dengan judul.

2. Perhatikan Situs Berita

Jika ada sebuah artikel, kita harus perhatikan sumber beritanya. Apakah itu dari media mainstream atau bukan. Bila bukan media yang kredibel, bisa saja itu menjadi kabar bohong atau hoax.

Biasanya, berita hoaks tentang virus corona yang bukan dari media kredibel menggunakan domain ber-akhiran blog (ex : Blogspot.com). Biasanya, media kredibel menggunakan domain yang ber-akhiran .com atau co.id. Namun, kita mesti cermat juga, karena ada juga yang mengatasnamakan media kredibel, meski domainnya menggunakan blog. Intinya kita jangan langsung percaya dengan satu blog saja, alangkah baiknya kita juga cek blog lain yang lebih kredibel dan terpercaya.

3. Konfirmasi Berita Ke covid19.go.id

Sebenarnya Pemerintah indonesia punya website resmi yang mengabarkan berita baru tentang virus corona, yakni di website covid19.go.id. Di akun ini juga ada kanal Hoax Buster yang terletak di bagian kanan atas.

Di kanal Haox Buster sendiri, ada banyak informasi yang salah beredar di masyarakat. Dan dari sini, kita bisa menelusuri berbagai kabar mengenai virus corona. Dan dari situ maka kita bisa tau, mana berita yang benar-benar fakta dan mana yang hoax.

4. Cek Keaslian Foto atau Gambar

Di grup WhatsApp, biasanya ada berbagai foto, baik itu benar atau sudah dimanipulasi. dan dari hal tersebut, maka kita , dapat mengecek keasliannya dengan menggunakan situs pencarian Google Image.

Caranya pun sangat mudah, kita tinggal memasukkan foto ke Google dengan memilih Gambar di kanan bagian atas. Setelah itu, klik gambar kamera di kolom pencarian dan upload fotonya.

Setelah itu Google bakal menampilkan hasil pencarian berupa foto yang sama dan situs mana saja yang telah memuat foto tersebut. Dan Cara seperti ini bisa membantu mengidentifikasi foto yang telah diedit atau disalahgunakan untuk berita yang salah.

5. Bergabung dengan Grup Anti-hoaks

Di media sosial , seperti Facebook atau media sosial lain sudah ada beberapa grup anti-hoaks, beberapa contoh di antaranya adalah Forum Anti Fitnah, Turn Back Hoax, hingga Mafindo atau (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia).  Di Grup-grup tersebut membahas banyak hoaks yang terjadi di Indonesia, tidak hanya virus corona, melainkan juga informasi yang lain.

6. Memeriksa Akurasi Fakta

Memeriksa akurasi fakta dapat dilakukan dengan mengetikkan judul berita tersebut di Google , ataupun menggunakan kata kuncinya sangatlah penting. Misalnya, Anda bisa mencari: “virus corona menular melalui udara”. Dan Saat daftar berita bertopik sama muncul, pilih situs yang kredibel. Dan dengan membaca dan membuka situs tersebut, maka kemungkinan informasi yang disampaikan adalah fakta, bukan hoax.

 

Kesimpulannya adalah kita dalam menerima sebuah informasi, hendaknya crosscek terlebih dahulu di sumber sumber yang benar kredibel, serta jangan langsung percaya dengan tagline judul, karena itu belum tentu valid dan benar, dan cara seperti ini bertujuan supaya kita mendapatkan informasi yang benar dan bermanfaat.

Continue Reading

KABAR INSPIRATIF

Agama VS Negara : Ibadah di masa pandemi

Published

on

Dimasa Pandemi seperti saat ini, dimana merupakan masa-masa yang sulit bagi setiap orang. Tidak hanya dalam hal aktifitas keseharian yang dibatasi, namun aktifitas ibadah juga tak luput dari pembatasan.

Pemerintah selaku pembuat kebijakan menerapkan peraturan bagi masyarakat untuk melakukan pembatasan pemberlakuan kegiatan masyarakat (PPKM), termasuk dalam kegiatan ibadah.

Lantas apakah aturan yang ditetapkan saat ini sudah sesuai dengan ajaran agama?

Ahmad Hifni, Selaku dosen UIN Syarif Hidayatullah mengatakan aturan PPKM yang dikeluarkan oleh pemerintah sudah tepat, namun aturan didalamnya harus lebih disederhhanakan lagi, sehingga masyarakat lebih mudah untuk memahaminya.

Jika pemerintah melakukan lockdown secara menyeluruh, ini akan berimbas kepada masyarakat secara langsung, perekonomian dan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat akan kesulitan. dalam kaidah ushul fiqh dijelaskan, “Dar’ul Mafasid muqaddamu ‘ala jalbil masholih”, dimana bahwasanya mencegah kerusakan lebih didahulukan ketimbang mengupayakan kemaslahatan.

Beliau menambahkan bahwasanya Ibadah bukan hanya sekedar melakukan ajaran-ajaran dalam agama secara dhahir, namun lebih dari itu, ibadah merupakan isi atau konteks dari perwujudan diri untuk melakukan pendekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sependapat dengan Dosen Ahmad Hifni, Pendeta Virgo Tri Septo Anggoro mengatakan bahwasanya aturan PPKM seharusnya dibuat sederhana mungkin, agar masyarakat mudah dalam memahami dan melaksanakannya. Dan juga  meskipun kegiatan dalam beribadah dibatasi dalam pelaksanaannya secara bersama-sama, namun masih banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya dengan memanfaatkan media online. Sebagai contoh, di gerejanya memberikan kemudahan kepada para jamaahnya dengan menyediakan sarana dan prasarana agar mereka tetap bisa melakukan ibadah dari rumah. Beliau menambahkan, tidak akan efektif jika ibadah tetap dilakukan secara bersama-sama, yang dikhawatirkan adalah pandemi ini tidak akan cepat usai dan bisa saja menimbulkan cluster baru.

Pada intinya, Negara tidak membatasi masyarakatnya untuk tetap melakukan kegiatan keagamaan. Namun disaat pandemi seperti ini, kurang pas rasanya jika kegiatan keagamaan tetap dilakukan secara offline. Oleh karena hal tersebut, pemerintah menganjurkan kegiatan ibadah dilakukan secara masing-masing demi terciptanya suasana kondusif.

Continue Reading

KABAR INSPIRATIF

Mahasiswa : Antara Akademis dan Organisatoris

Published

on

pakdentertainment.com- Sebuah dilema besar ketika sudah memutuskan untuk menjadi seorang mahasiswa. Adalah menjadi mahasiswa akademis atau organisatoris. Menjadi mahasiswa ambisius yang hanya mengejar nilai tinggi tiap semesternya  atau  yang selalu aktif di setiap kegiatan baik internal maupun eksternal.

Tidak bisa dipungkiri bahwa keduanya merupakan elemen penting  dalam dunia mahasiswa. Ketika  sudah memutuskan untuk terjun ke dunia perkuliaan, maka tidak jarang kita akan dihadapkan pada dua dilema besar ini.

Di antara keduanya , mana yang lebih baik, akademis atau organisatoris ?

Ahmad Ridwan Hutagalung, Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Syarif  Hidayatullah Jakarta sekaligus pengajar di pondok pesantren Jagad Arsy, Tangerang Selatan mengatakan bahwa di antara akademis dan organisatoris tidak bisa dipisahkan, mengingat kita sebagai mahasiswa punya peran dan tanggung jawab lebih ketika sudah terjun ke masyarakat. Kita bukan lagi sebagai siswa yang hanya belajar dan mengikuti apa yang diinstruksikan oleh guru tetapi, kita adalah mahasiswa di mana harus sadar bahwa kita sudah menyandang kata maha. Nah, kata “ Maha ” di sini mempunyai makna besar atau lebih. Artinya, sebagai seorang mahasiswa dituntut untuk  lebih berfikir  tentang bagaimana ketika sudah terjun ke masyarakat.

Beliau menambakan, kampus sudah memberikan ruang dan waktu untuk mengimplementasikan ilmu yang di dapatkan dari bangku kuliah seperti adanya KKN (Kuliah Kerja Nyata ). Dari situ kita bisa mengenal tentang bagimana bersosialisasi dengan masyarakat, menemukan karakter  yang berbeda-beda juga tentang kepemimpinan seseorang ketika di lapangan. Dalam dunia  masyarakatpun  demikian,  kita akan dituntut untuk lebih peka terhadap  perkembangan ekonomi,  teknologi , politik  maupun  lingkungan sosial .

Untuk menjadi  mahasiswa sejati,  tidak seharusnya  membandingkan  antara akademi dan organisasi, apalagi menganggap organisasi sebagai penghambat cita cita dan  tanggung jawab sebagai  mahasiswa. Justru organisasi menjadi ruang untuk mengembangkan akademi kita dalam  mempraktikkan ilmu, menggali dan mengembangkan potensi diri.

(Ulil Absor, Penggerak Gusdurian Madiun)

Continue Reading

Berita Terkini

Kajian Sosiolinguistik : Pentingnya berbahasa dalam bermasyarakat

Published

on

pakdentertainment.com-  (Madiun, 31/07/2021) Komunitas Gusdurian Madiun kembali menghadirkan  seminar online sebagai salah satu bentuk kegiatan komunitas dimasa pandemi covid-19 saat ini.

Pada seminar kali ini dengan mengusung konsep “guneman”, Komunitas Gusdurian Madiun mengusung tema “Sosiolinguistik” dengan menghadirkan M. Ali Husein, S.Hum., CNNLP., CPSM. sebagai narasumber. Beliau merupakan lulusan S1 Bahasa dan Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang saat ini sedang melanjutkan studi S2 Program Studi Lingustik di Universitas Indonesia. Ujar beliau saat pembukaan.

Selain dari anggota Gusdurian sendiri, Seminar ini juga diikuti oleh peserta dari kalangan umum. Hal ini dapat terlihat dari antusiasme peserta  yang mencapai 123 kali tontonan dalam siaran langsung yang ditayangkan melalui media sosial Instagram.

Dalam seminarnya, M. Ali Husein menyampaikan bahwasanya Sosiolinguistik merupakan cabang dari Ilmu lingustik yang mempelajari bahasa dalam kaitannya penggunaan di masyarakat. Lebih lanjut, beliau mengatakan  dengan sosiolingusitik kita dapat memahami karakter seseorang dan juga budaya lain dan menjadi lebih bijaksana dalam mengambil sikap sekaligus dalam bertutur kata.  Beliau juga memberikan contoh penggunaan sosiolingusitik dalam bidang dakwah, “Dengan adanya sosiolinguistik ini, para pendakwah bisa memilih kata atau kalimat atau diksi yang bisa diterima dengan baik oleh jamaahnya”. Ujar beliau. “mempelajari sosiolingustik adalah salah satu tujuannya untuk bisa menempatkan diri kita akan berbicara dengan siapa, pada situasi apa, pada acara apa” imbuh beliau.

Atin Sulalatin, selaku anggota Gusdurian Madiun sekaligus moderator dalam acara ini menyampaikan bahwasanya kedepannya, acara seminar online seperti ini  akan lebih banyak dilakukan dalam masa pandemi covid-19.

Ulil Absor, selaku koordinator acara mengatakan bahwasanya dengan diselenggarakannya acara seperti ini, beliau berharap selain berbagi ilmu kepada masyarakat, komunitas gusdurian madiun juga semakin dikenal oleh masyarakat, khususnya masyarakat madiun dan sekitarnya terutama kawula muda millenial.

Continue Reading
Advertisement

Kabar Inspiratif

Advertisement

Trending