Connect with us

MAKALAH

REALISASI PUBLIC SPHERE DAN PRAKTIK ETIKA KEWARTAWANA

Published

on

Disusun oleh : Sasli Agus
Mahasiswa semester 3 KPI UIN Jakarta

A.    Revitalisasi Konsep Public Sphere Habermas
Dalam esainya, The Public Sphere, Habermas mengatakan bahwa ruang publik merupakan wilayah sosial yang bebas dari sensor dan dominasi. Semua warga masyarakat pada prinsipnya boleh memasuki ruang tersebut. Mereka sebenarnya orang-orang privat yang percakapnya membentuk sebuah publik. Dalam diskusi tersebut, mereka melepaskan diri dari berbagai atribut sosial dan budaya serta kepentingan ekonomi tertentu. Sehingga mereka bukan lagi sebagai pebisnis atau professional, juga bukan pejabat dan politikus. Masing-masing dari mereka berfungsi sebagai pendidik, dan apa yang mereka diskusikan adalah soal-soal kepentingan umum. Public sphere merupakan sebuah ruang di mana warga negara saling bertukar gagasan dan mendiskusikan sebuah masalah untuk meraih sebuah kesepakatan dalam suatu kepentingan bersama.
Dalam public sphere dibicarakan mengenai peristiwa yang sedang terjadi di masyarakat: isu politik, sosial dan budaya apa saja yang sedang dihadapi masyarakat pada saat itu. Public sphere memberikan kesempatan agar masyarakat tidak pasif terhadap informasi yang diterima. Dengan demikian, di dalam ruang publik itu pula, setiap orang memiliki kesempatan untuk terlibat dengan berbagai isu aktual, khususnya dalam bertukar pendapat, atau dengan kata lain, memainkan peranan tertentu dalam proses mencapai konsensus ataupun kompromi terhadap isu tertentu serta menyepakati agenda aksi bersamanya.
Konsep public sphere sangat berguna untuk mempelajari bagaimana masyarakat modern yang berada dalam sistem demokrasi liberal. Konsep ini dapat menjelaskan tentang bagaimana warga negara meraih sebuah consensus bersama untuk merumuskan apa yang terjadi dan mengakomodir kepentingannya dalam sebuah keputusan publik.
Habermas mengatakan kebebasan berbicara adalah syarat utama agar terjadi komunikasi umum dan diskursus tingkat tinggi, walau mungkin ini sulit dilakukan. Karena itu, menurut Habermas, ada empat kondisi ideal agar terjadi kebebasan berbicara itu, yaitu:
a. Situasi yang mendukung untuk mengemukakan pendapat.
b. Semua individu mendapatkan akses yang sama untuk berbicara.
c. Kekuasaan dalam forum tersebar merata.
d. Dialog yang rasional (Littlejhon: 1996).
Menurut Habermas, ruang publik baru akan berfungsi secara efektif bila informasi yang dikemukakan di dalamnya adalah informasi yagn berkualitas dan mudah di dapat, dan bila informasi yang didapatkan adalah informasi yang dapat diandalkan (reliable) dan cukup untuk sebuah perdebatan publik sehingga mendukung terbentuknya diskusi berkualitas. Sedangkan informasi yang buruk akan menghasilkan perdebatan yang buruk dan berakibat pada konsensus publik yang buruk pula. Karena itu menurut Habermas, ada tiga prinsip utama bagi sebuah ruang publik, yaitu akses yang mudah terhadap informasi, tidak ada perlakuan istimewa ( ) terhadap peserta diskusi, dan peserta mengemukakan alasan rasional saat berdiskusi dalam mencari consensus (Roper dalam Toulouse, 1998).
B.     Studi Kasus Public Sphere
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Jannus Timbo Halomoan Siahaan (alumni S2 Ilmu Manajemen Komunikasi Politik Universitas Indonesia 2007) yang berjudul “FORMASI PUBLIC SPHERE  DALAM MASYARAKAT TRANSISIONAL: Studi Kasus Penyusunan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2007 Tentang Limbah Padat di Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan.” yang menghasilkan kesimpulan bahwa Public Sphere dalam masyarakat transisional, dalam hal ini masyarakat Luwu Timur, adalah public sphereyang semu alias belum murni (pseudo-public sphere). Dalam arti, di sana memang ada persoalan yang menjadi bahan pembicaraan masyarakat, tapi ketika persoalan itu diupayakan solusi yang melambangkan adanya consensus public(di luar perwakilan mereka di legislatif), ternyata partisipasi mereka tidak tersalurkan secara maksimal. Partispasi masyarakat dalam perumusan Perda Limbah Padat itu bisa dikatakan tidak signifikan.
Masyarakat Luwu Timur masih berasumsi bahwa opini publik mereka tidak punya peranan yang signifikan dalam menentukan kebijakan publik. Kesadaran masyarakat akan hak-hak demokratisnya masih rendah. Kalau dikembalikan pada konsep Habermas tentang public sphere, ini memang terkait dengan banyak hal. Satu di antaranya adalah terkait dengan akses dan distribusi informasi. Masyarakat masih sulit mengakses informasi yang terkait dengan kehidupan publik secara riil. Pada saat yang sama, pihak pemerintah pun kesulitan mendistribusikan informasi yang dibutuhkan masyarakat.
Kalau mengacu pada aturan pemerintah tentang alur pembuatan Perda, proses perumusan Perda sebenarnya sudah sesuai dengan aturan yang ditetapkan pemerintah. Hanya saja, masyarakat masih merasakan adanya agenda tersembunyi di balik rumusan Perda itu. Salah satu penyebab munculnya perasaan itu adalah karena aspek sosialisasi wacana perumusan Perda tersebut masih lemah dan kurang maksimal, baik sebelum dibahas maupun sesudah dirumuskan.
Berdasarkan uraian di atas, kalau mengacu pada konsep public sphere, memang ditemukan beberapa unsur yang telah memenuhi beberapa ide pokok Habermas tentang public sphere itu. Persoalan limbah padat telah menjadi perbincangan umum di masyarakat Luwu Timur di beberapa tempat. Namun, ketika sudah sampai pada perumusan kebijakan untuk publik, masyarakat masih belum punya akses untuk berpartisipasi dalam menentukan kebijakan publik dalam kehidupan mereka sehari-hari. Karena itu, tidak sedikit kelompok masyarakat yang berasumsi bahwa substansi dalam Perda No. 03 Tahun 2007 itu memang diangkat dari persoalan riil yang diperbincangkan oleh masyarakat. tetapi konsensusnya atau kebijakan publik yang terkait dengan persoalan itu tidak lahir dari masyarakat atau tidak melibatkan masyarakat luas. Konsensus dalam Perda itu lahir dari pihak eksekutif dan pihak legislatif.
Masyarakat Luwu Timur dalam konteks pembentukan Perda No. 03 Tahun 2007 tentang Limbah Padat, belum bisa berpartisipasi secara penuh, baik partisipasi politik maupun sosial. Kesadaran masyarakat Luwu Timur akan hak-hak demokrasinya juga masih rendah. Mayarakat Luwu Timur juga belum bisa melepaskan dirinya dari budaya feodalisme dan berubah menjadi masyarakat yang rasional. Mereka masih berasumsi bahwa opini publik mereka tidak punya peran signifikan dalam pembentukan kebijakan publik.
Dalam kacamata Habermas, konsep Public Sphere memiliki kedudukan yang penting dalam pembentukan masyarakat yang demokratis. Namun begitu, kesuksesan penerapannya tidak bisa bersifat tunggal, tapi tergantung pada berbagai kondisi-suasana dalam suatu masyarakat. Konsep public sphere Habermas tidak sepenuhnya bisa diterapkan di negara-negara yang masih menerapkan sistem feodal. Proses pembentukan public sphere di negara-negara maju yang digambarkan Habermas tidak sama persis dengan formasi di Indonesia. Namun demikian, public sphere merupakan wahana yang penting dalam pembentukan masyarakat yang demokratisasi. Kesehatan public sphere juga merupakan indikasi kesehatan demokrasi di suatu negara.
Dengan mengacu pada gagasan gradualisme McKee (2005), ruang publik yang mengemuka di Kabupaten Luwu Timur adalah proses menuju realisasi public sphere sebagaimana yang digagas oleh Habermas. Gradualisme ini tidak hanya terjadi pada tingkat birokrasi pemerintah, melainkan terjadi pula pada tingkat kesadaran masyarakat akan hak-hak publiknya.
C.     Reaktualisasi Kode Etik Jurnalistik
Pemberitaan adalah cerminan kehidupan masyarakat. Media massa mampu menjadi mata dan telinga masyarakat yang mampu membongkar segala kebobrokan dan penyebab degradasi moral yang ada di masyarakat. Diakui bahwa media massa merupakan corong suara rakyat dengan istilah yang dikenal “Vox Populi Vox Dei” yang artinya suara rakyat adalah suara Tuhan. Dalam artian sesungguhnya media massa mampu menampilkan ranah publik sesungguhnya di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini sejalan dengan konseptualisasi Habermas memaknai tentang ranah atau ruang publik.
Media massa menyatakan diri mampu menghadirkan ranah itu yang bebas dari pengaruh apapun yang ada di masyarakat. Media massa merasa “digjaya”memiliki kekuasaan untuk mengatur dan mengarahkan apa yang hendak dibicarakan dan dipergunjingkan orang di ranah publik yang ada. Media massa juga mampu mencerdaskan dan menyebarkan informasi relevan dan objektif ke masyarakat dengan mengutamakan slogan “semua berhak tahu”. Dengan demikian, kehadiran media massa sedemikian bernuansa demokratis dengan menjunjung tinggi harkat dan martabat orang dalam memaknai arti hakiki keberadaan manusia sebagai insan yang bebas, merdeka dan memiliki hak yang sama di depan hukum dan pengadilan. Satu yang diakui bahwa kemerdekaan Amerika Serikat disinyalir sedikit banyaknya ada andil kerja pers di dalamnya, dengan terlebih dahulu diproklamirkan kemerdekaan pers di sana. Alhasil yang muncul adalah gelombang besar free press dengan kehadiran para muckraker-muckraker atau para pembongkar skandal dan kebobrokan moral yang ada di tanah koloni Inggris tersebut. Kebebasan pers bukanlah sesuatu yang sepele, karena dari situlah muncul terobosan besar dalam kehidupan bernegara dan berbangsa sesungguhnya menyoal kebebasan bersuara dan berpendapat dalam artian yang sesungguhnya.
Pers yang bebas sebebas-bebasnya dalam mencari berita dan mewartakan sesuai apa yang dilihat dan dikajinya kepada masyarakat melalui sidang pembacanya juga bertanggungjawab adalah dambaan semua orang. Pers bukanlah “tukang kipas-kipas” atau pengadu domba dan keonaran di masyarakat. Melainkan menjadi pihak penengah, negosiator dan penyambung lidah rakyat dengan kejujuran dan kesadaran mereka akan arti profesionalisme kewartawanan.
D.    Studi Kasus
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ilham Prisgunanto (Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian) yang berjudul “KODE ETIK JURNALISTIK DI KALANGAN WARTAWAN MEDIA MASSA CETAK ISLAM” menghasilkan kesimpulan yaitu diketahui bahwa tingkat pemahaman wartawan yang bekerja di media massa bergenre Islam akan etika jurnalistik sudah tinggi. Bagi wartawan ada rasa keharusan untuk menerapkan etika jurnalistik di tempat kerja dan itu diakui sudah tidak bisa ditawar lagi. Dalam kerja di lapangan bagi wartawan yang bekerja di media cetak bergenre Islam unsur dedikasi adalah hal terpenting dalam bekerja di lapangan. Dedikasi untuk wartawan dianggap sebagai pengakuan diri bahwa wartawan adalah si pembawa pesan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan profesi ini sedemikian penting dan berarti.
Dari hasil uji korelasi Spearman diperoleh kesimpulan sebagai berikur: (1) Ada hubungan yang signifikan dalam tataran afektif antara pemahaman etika jurnalistik wartawan dengan profesionalisme wartawan. Dapat diartikan bahwa sudah ada penerapan etika jurnalistik pada wartawan hanya pada aspek afektif, yakni perasaan dan keinginan saja, tidak pada taraf pelaksanaan (konatif) di tempat kerja. Dengan demikian jelas bahwa masih sikap pesimistis dan keraguan bahwa penerapan etika jurnalistik dapat diterapkan secara nyata dalam bidang kerja wartawan; (2) Adanya hubungan yang signifikan antara aspek kognitif pemahaman etika jurnalistik wartawan dengan dedikasi wartawan di tempat kerja. Dapat dipahami, bahwa selain menyoal profesionalisme, unsur dedikasi menjadi unsur penting dalam pemahaman secara kognitif wartawan. Di sini wartawan memahami bahwa dedikasi diperlukan dalam memahami etika jurnalistik; (3) Ada hubungan yang signifikan antara aspek afektif pemahaman etika jurnalistik wartawan bergenre Islam dengan keahlian mereka di bidang kerja. Dengan demikian dapat dipahami bahwa etika jurnalistik akan mempengaruhi keahlian mereka hanya ada dalam tataran afektif atau keinginan saja, tidak berimbas langsung unsur tersebut terhadap diri pencari berita.
DAFTAR PUSTAKA
Habermas, Jurgen. 1997. The Structural Transformation of the Public Sphere. Massachusetts: The MIT Press.
Habermas, Jurgen. 1987. The Theory of Communicative Action, Volume 1: Reason and Rationalization. Boston: Beacon Press.
Habermas, Jurgen. 1987. The Theory of Communicative Action, Volume 2: Lifeword and System: Critique of Funcionalist Reason.
HM, Zaenuddin. 2011. The Journalist. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Littlejohn, Stephen W. 2002. Ed. Theories of Human Communication. Belmont, CA: Wadwort Thomson Learning.
Webster, Frank. 1995. Theories of Information Society. London: Routledge.
JURNAL
Prisgunanto, Ilham. 2017. Kode Etik Jurnalistik Di Kalangan Wartawan Media Massa Cetak Islam. Dilansir dalam Jurnal Komunikasi Global, Volume 6, Nomor 2.
Siahaan, Jannus Timbo Halomoan. 2007. Formasi Public Sphere Dalam Masyarakat Transisional: Studi Kasus Penyusunan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2007 Tentang Limbah Padat di Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan. Dilansir dalam CosmoGov: Jurnal Ilmu Pemerintahan
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

MAKALAH

BIG EFFECT: Antara Trending dan Upgrading

Published

on

Sumber Instagram: @_dilanku, @film_iqro, @id.m.wikipedia.org


Bismillah….

 اللَّهُمَّ عافني في بدنياللَّهُمَّ عافني في سمعي اللَّهُمَّ عافني في بصري لا اله الا انت
Tontonan kadang jadi tuntunan. Sepertinya hipotesis kebanyakan kecerdasan orang-orang itu audio-visual. Bahkan pada beberapa keadaan gelombang otak yang pas, apa yang dia pelajari akan masuk ke alam bawah sadar. Itulah, pentingnya memilah dan memilih tontonan.
Sebuah diskusi menggerakan hati sayah, satu sisi ada sebuah film remaja dalam beberapa hari saja sudah menginjak 3jt viewers, disisi lain ada contoh sebuah film yang edukatif dan powered by Sebuah Masjid PTN ternama di Bandung, sedikit viewers. Bahkan skrg jejaknya entah kemana, padahal pengisi soundtracknya Muzammil Hasballah dan orang hebat lainnya. Terlepas dari cinematography, videoshoot, script, produser dan segala macam mengenai perfilman yang sayah belum ngerti.
Jika berbicara dengan hati, sayah akan share mengenai “big effect” dari sebuah tontonan.  apakah dari mereka lebih mengikuti tranding atau upgrading? Sedang diantara penonton film2 seperti yg tranding skrg bukan hanya orang yang tergolong mumayyiz, bisa mengambil pelajaran, tapi bahkan terdengar di telinga kita ada anak yang masih belajar A Ba Ta saja sudah memperbincangkannya. Alhasil, begitulah 🤧

Pada sebuah seminar diinformasikan bahwa Sigmund Freud membagi kesadaran pikiran kita itu menjadi 3:
1. Conscious (sadar)
2. Preconscious (prasadar)
3. Unconscious (bawah sadar)

Faktanya adalah Conscious saat beraktifitas hanya berhasil sekitar 5-10% fokus kita dalam sebuah informasi. Sisanya didominansi oleh Unconscious.
Sebagai contoh, saat ini temen2 fokus membaca cerita sayah, padahal di sekeliling kita ada banyak hal yang tidak masuk fokus tapi mereka ada, sehingga jika sayah ingatkan warna baju yang kita pakai, tas yg kita gunakan, merk hp yg kita pegang dan sebagainya, kita akan segera sadar dan mulai meliriknya. Itu yang disebut mengapa fokus kita cenderung sedikit, sedang di sekeliling kita ada banyak hal yg masuk ke bawah sadar kita.  Saat kita membutuhkan sebuah informasi, kita akan segera mengeluarkan informasi tersebut.

Contoh: Sebelum baca tulisan ini, kita tidak berfikir dimana kita simpan ijazah SD kita. Seketika saat membacanya, kita teringat letak ijazah SD di dalam map, bersama dokumen-dokumen lainnya di lemari. MasyaAllah, sepersekian detik fokus kita mulai mengeluarkan informasi yang kita butuhkan.
Konsep belajar Brain Based Learning, Kita mengharuskan alam bawah sadar untuk diaktifasi terlebih dahulu sebelum conscious. Disini, informasi lebih baik dan lengkap akan kita dapatkan. Otomatis waktu yang digunakan lebih efektif dan efisien. Bukti bahwa power alam bawah sadar (unconscious) sangat besar dalam kehidupan manusia. Semua terserap, dan sewaktu2 akan muncul sebagai ekspresi dalam perbuatan, baik sadar maupun tak sadar.
Pernah dengar “Subliminal Message”?

Yups, istilah itu sederhananya kita sebut pesan tersembunyi. Bahkan beberapa hal sering kita temukan pada banyak objek yang memiliki banyak pesan tersembunyi, jika dalam konpirasi, kita bisa ambil contoh adanya sihir sigil pada beberapa videoclip k-pop, unsur illumination pada kartun anak2 dll. Sebenarnya doktrin atau kasarnya cuci otak akan mulai masuk ke alam bawah sadar untuk diakses informasi sebesar2nya melalui bagian subliminal otak.

Dari situ, kita sedikit bisa bayangkan sebesar apa pengaruh sesuatu yang kita lihat dan dengar terhadap kehidupan kita. Semua media sudah berpengaruh sangat besar dalam pengembangan kepribadian dan karakter semua orang di zaman Fitnah ini. MasyaAllah otak kita benar2 didesain hebat untuk menyerap 90-95% informasi pada alam bawah sadar.
Analisis kita akan terhubung pada hadits Nabi SAW tentang seseorang akan “kecipratan” pribadi dari siapa yg jadi teman kita, baik itu pandai besi hingga tukang minyak wangi. Selain itu QS. Nur: 30-31 mengenai menundukan pandangan serta banyak dalil lainnya yang mengatur fasilitas dan kinerja dalam tubuh kita agar dijaga dengan baik.

Hal tersebut berhubungan dengan diri kita yang akan menyerap pancaran di alam bawah sadar, jika tak ada benteng taqwa dan iman, informasi yang negatif akan muncul dalam kepribadian kita. Na’udzubillahi min dzalik 🙁
Sebuah buku karangan Asrori S. Karni berjudul ” Laskar Pelangi: The Phenomenon” yang berhasil menginspirasi jutaan orang karna karya Tetralogi Andrea Hirata. “Big Effect” ini berhasil membangun alam bawah sadar orang-orang untuk mengejar mimpi, bangkit dan semangat serta banyak big effect lainnya yang menjadi fenomena, Good Vibes.

So, bisa kita bayangkan jika tontonan yang tergolong “unfaedah” menjadi trending di lingkungan kita. Orang-orang disekitar Kita akan merekam segala hal yang dijajakan pada tontonan tsb. Alhasil, kehidupan unfaedah akan tercipta di sekitar kita. Contoh, berkurangnya ta’dzim kepada orang tua dan guru, tahrim kepada sesama dan lainnya.

“Lah, kita kan harus mengapresiasi karya anak bangsa dong! Mereka kan udah berjuang untuk membuat karya tersebut.”
Katanya sii gitu ..

Ada Quotes yang bisa menjawabnya :
“Artis dibayar mahal untuk menghacurkan karakter anak bangsa yang sudah dididik guru mati2an yang dibayar sangat murah”.
Bayangkan jika kita menganggap penghargaan terhadap tontonan2 unfaedah itu diharuskan. Akan ada berapa banyak tontonan seperti itu yang dibuat kembali? Sedang “market” menghargai karya tersebut 🙁
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ
“Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya,penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya dan orang yang meminta diantarkan.” (HR. Abu Daud, no. 3674; Ibnu Majah no. 3380. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 2356)

Pernah dengar hadits ini? Ya, hadits ini melarang hal maksiat dan semua hal yang berhubungan dengannya. Bagaimana dengan tontonan “unfaedah” yang sudah jelas-jelas negatif semua didalamnya, seperti berantem membela doi, praktik pacaran yang sangat jelas, bahasa yang kotor, melawan guru yang diperlihatkan dan segala macamnya. Dengan menontonnya, memfasilitasinya, menjual tiketnya, mengajak orang menontonnya, menyebarluaskan iklannya dll, apakah mereka tidak akan mendapatkan dosa jariyah itu? Na’udzubillahi min dzalik, ini hanya kekhawatiran dari anak yang alfa atas pengetahuan dan seluruh isi kehidupan. 🙁

Bukan berarti kami yang khawatir ini lebih baik dari semua yang berhubungan dengan hal2 tadi. Namun, hal ini semakin membuat diri sedih setelah melihat explore sosmed dan trending topicnya mengenai hal itu.

Apa sayah hanya diam dan membiarkan ini terjadi? Padahal, semua akan ada pertanggungjawabannya. Lalu bagaimana dengan sayah yang sudah diamanahi setitik hal untuk bisa di share, dalam mempertanggungjawabkan hal tersebut dihadapan Allah?
Bagaimana pun, kita bisa meminimalisir “fenomena” ini di lingkungan terdekat kita. Caranya? Beri pengertian dan komunikasikan.

Bagi Kita yang sudah tergolong mumayyiz, kita bisa dampingi keluarga kita dalam memilah tontonan.
Jangan pernah mengekspresikan marah atas apa yang mereka tonton, mungkin mereka sebelumnya belum tau, mungkin mereka juga ingin menganalisis, dan kemungkinan2 lain yang diluar kuasa kita.
Jika perlu, mari kita buat dan dukung karya-karya berfaedah. Kita hanya perlu menyalurkan minat dan bakat orang-orang yang berkarya itu pada kebermanfaatan. Semua itu butuh dukungan dari berbagai pihak.

Banyak sekali yang bisa kita lakukan. InsyaAllah!
Diterima atau tidak diterima, serahkan kepada Allah.
Ust Oemar Mita mengatakan bahwa dakwah itu”Seni Mengetuk Hati”.
Sekelas Nabi Muhammad SAW saja tak kuasa saat Abu Thalib meninggal tidak dalam keadaan sebagai muslim. Padahal tidak ada keraguan pada diri Abu Thalib kepada Islam dan Nabi Muhammad SAW. Apa kabar kita yang dosanya bejibun? 🙁
Astaghfirullah wa Atuubu Ilaih
-Wallahu A’lam bish-showab-
A’zizah Shobiroh
Ciputat, 09 Maret 2019

Continue Reading

GALLERY

Makalah Study Islam | Tasawuf dan Tarekat

Published

on

BAB I

PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Islam adalah agama yang sejak awal diturunkannya diterima dan amalkan oleh masyarakat urban, atau masyarakat perkotaan di Mekkah dan Madinah. Yakni diterima suatu lapisan masyarakat yang mampu berpikir rasional dan logis, mampu membedakan dan menarik garis pemisah antara yang islam dan yang bukan islam.
Tarekat merupakan bagian dari ilmu tasawuf. Namun tak semua orang yang mempelajari tasawuf terlebih lagi belum mengenal tasawuf akan faham sepenuhnya tentang tarekat. Banyak orang yang memandang tarekat secara sekilas akan menganggapnya sebagai ajaran yang diadakan di luar Islam (bid’ah), padahal tarekat itu sendiri merupakan pelaksanaan dari peraturan-peraturan syari’at Islam yang sah. Namun perlu kehati-hatian  juga karena tidak sedikit tarekat-tarekat yang dikembangkan dan dicampuradukkan dengan
ajaran-ajaran yang menyeleweng dari ajaran Islam yang benar. Oleh sebab itu, perlu diketahui bahwa ada pengklasifikasian antara tarekat muktabarah (yang dianggap sah) dan ghairu muktabarah (yang tidak dianggap sah).
Memang seluk-beluk tarekat tidak bisa dijabarkan dengan mudah karena setiap tarekat-tarekat tersebut memiliki filsafat dan cara pelaksanaan amal ibadah masing-masing. Oleh karena itu, penulis berusaha menjelaskan tentang tarekat dalam makalah ini. Meskipun makalah ini tidak bisa memuat hal-hal yang berkaitan dengan tarekat secara menyeluruh, tapi paling tidak makalah ini cukup mampu untuk memperkenalkan kita pada terekat tersebut.
B.  Rumusan Masalah         
1.         Apa yang dimaksud dengan tasawuf, fungsi, perbedaan dan persamaan dengan tarekat?
2.         Bagaimana latar belakang lahir nya tasawuf/ tarekat dalam islam?
3.         Apa macam-macam aliran tasawuf dan corak pemikirannya?
4.         Apa tema-tema yang dibahas dalam tarekat islam
C. Tujuan penulisan
1.         Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Study Islama
2.         Untuk mengetahui aspek-aspek
D.  Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan salah satu aspek yang berperan dalam kelancaran dan keberhasilan dalam suatu penulisan. Dalam mengumpulkan data-data yang dibutuhkan, penulis menggunakan beberapa metode Studi Literatur (Library Research)
Yaitu informasi yang didapat dari buku catatan, majalah, dokumen, artikel dan sumber-sumber lain yang berhubungan dengan masalah pada makalah ini.
F.  Analisis Data
Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang diperoleh melalui hasil Studi Literatur (Library Research), kemudian dideskripsikan dengan cara menggunakan analisis data.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Kata tasawuf berasal dari bahasa arab thasawafa yatashawwafu tashawwufan, yang artinya bersih, murni, jernih. Pengertian ini mirip dengan kata zakka yuzakki tazkiyatan yang berarti membersihkan jiwa atau batin dari berbagai sifat yang buruk, seperti takkabur, syirik, dusta, fitnah, buruk sangka, berbuat dosa, dan maksiat. Kata tasawuf mengacu kepada dimensi batin (esoteric) manusia, sebagai lawan dari demensi lahir (exoteric) manusia. Dengan kedua dimensi ini, maka terdapat keseimbangan antara dimensi lahir dan batin.[1]
Selain itu Zakaria al-Anshari berkata,” Tasawuf adalah ilmu yang dengannya diketahui tentang pembersihan jiwa, perbaikan budi pekerti serta pembangunan lahir dan batin, untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi.[2]. Dalam buku Qawa id at-Tashawuf, ahmad zaruk mengatakan bahwa kata tasawuf telah didefenisikan dan ditafsirkan dari berbagai aspek, sehingga mencapai sekitar dua ribu defenisi. Semua itu disebabkan karena ketulusan untuk menghadap Allah, yang dapat dicapai dengan berbagai cara.[3]
B.     Fungsi Tasawuf
Pada dasarnya hakikat tasawuf adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Melaui penyucian diri dan perbuatan-perbuatan islam. Dapat diartikan fungsi tasawuf sebagai berikut:
– Sebagai benteng pertahanan menghadapi budaya luar yang sifat nya menjerumuskan.
– Sebagai petunjuk beberapa jalan hidup pembangunan masyarakat dan ekonomi.
-Memperkuat posisi islam dalam kehidupan bermasyarakat, serta mengembangkan       masyarakat islam yang lebih luas.
C.      Antara Tasawuf dan Tarekat
Di dalam ilmu tasawuf, istilah tarekat itu tidak saja ditunjukkan pada aturan dan cara-cara tertentu yang digunakan oleh seseorang syaikh tarikat dan bukan pula terhadap kelompok yang menjadi pengikut salah seorang syaikh tarekat, tetapi meliputi segala aspek ajaran yang ada di dalam agama islama seperti salat zakat dan lain-lain yang semuanya itu merupakan jalan atau cara mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam tarekat yang sudah melembga itu sudah tercakup semua aspek ajaran islam seperti salat zakat dan lain-lain, ditambah lagi pengamalan serta seorang syaikh. Akan tetapi, semua itu merupakan tuntunan dan bimbingan seorang syaikh melalui baiat.
Sebagaimana telah diketahui bahwa tasawuf itu secara umum adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat mungkin, melalui penyesuaian rohani dan memperbanyak ibadah usaha dan mendekatkan diri ini biasanya dilakukan dibawah bimbingan seorang guru atau syaikh. Ajaran-ajaran tasawuf yang harus di tempuh untuk mendekatkan diri itu kepada Allah merupakan hakikat tarekat yang sebenarnya.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan tarekat itu adalah cara dan jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah. Gambaran ini menunjukkan bahwa tarekat adalah tasawuf yang telah berkembang dengan beberapa variasi tertentu. Sesuai dengan spesifikasi yang diberikan seorang guru pada muridnya.
D.    Lahirnya Tasawuf dalam Islam
Peralihan tasawuf yang bersifat personal pada tarekat yang besifat lembaga tidakterlepas dari perkembangan dan perluasan tasawuf itu sendiri. Semakin luas pengaruh tasawuf, semakin banyak pula orang yang berhasrat ingin mempelajarinya. Maka menemui orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas dalam mengalaman tasawuf yang dapat menuntun mereka. Belajar dari seorang guru dengan metode mengajar yang disusun berdasarkan pengalaman dalam suatu ilmu yang bersifat praktik adalah suatu keharusan bagi mereka.
Ditinjau dari segi historisnya, kapan dan tarekat nama yang mula-mula timbul sebagai suatu lembaga, sulit diketahui dengan pasti. Namun Harun Nasution menyatakan bahwa setalah Al Ghozali menghalalkan tasawuf yang sebelumnya dikataka sesat, tasawuf berkembang dari dunia islam, tetapi perkembangannya melalui tarekat. Tarekat adalah organisasi dari pengikut sufi-sufi besar yang bertujuan untuk melestarikan ajaran-ajaran tasawuf gurunya. Tarekat ini memakai suatu tempat pusat kegiatan yang disebut ribat – organisasi serupa mulai timbul pada abad XII M, tetapi belum baru Nampak perkembangannya pada abad-abad berikutnya.
Tarekat diartikan sebagai jalan yang khusus di peruntukkan bagi mereka yang mencari Allah disini dan kini. Merupakan perpaduan antara iman dan islam dalam bentuk ihsan.
Secara amaliyah (praksis) tarekat timbul dan berkembang semenjak abad-abad pertama hijriah dalam bentuk pelaku zuhud dengan berdasarkan pada Al Qur’an dan Al Sunnah. Zuhud bertujuan agar manusia dapat mengendalikan kecenderungan-kecenderungan terhadap kenikmatan duniawiyah secara berlebihan.
Sejak abad VI dan VII hijriyah (XII dan XIII M) tarekat-tarekat telah memulai jaringannya di seluruh dunia islam, taraf organisasinya beranekaragam. Perbedaannya yang pertama dari semua itu terletak pada upacara dan dzikir, keanggotaannya sangat heterogen. Kemudian sejak abad VIII H (XIV M) menyebar dari sinegal ke cina. Semenjak hulak tarekat-tarekat telah beraneka ragam dengan  ciri-ciri khusus dan berbeda satu dengan yang lainnya.
E.     Macam-Macam Aliran
1.      Tarekat Qodariyah
Tarekat ini didirikan oleh muhyi al-Din abu muhamad ‘Adb al qodir bin musa bin ‘abdullah bin musa (470-561 H 1077/1166 M) pengikutnya menyebar ke berbagai pelosok dunia islam sampai ke asia barat dan mesir. Pada abad XIX M bercabang sampai ke maroko dan Indonesia. Tarekat ini dinilai sebagai tarekat paling progresif tapi tidak jauh dari faham salf. Tarekat ini lebih berkonsentrasi kepada pemurnian tawhidullah dan zduhur dalam ibadah. Ia memiliki keunggulan dalam ihwal kedermawanan, kealehan dan kerendahan hati serta ketidaksetujuan terhadap fanatisme agama dan politik.
Diantara ajaran pokoknya ialah : bercita-cita tinggi (“aluw al Himmah) menghindari segala yang haram, memelihara hikmah, merealisasikan maksud dan mengagungkan nikmat Allah, beberapa sebab keberhasilan tarekat ini dalam rekkrutmen murid dan calon murid adalah ketaatan yang teguh dalam syariat dan realisasi ajaran salaf, kencamannya yang gencar terhadap paham yang menyandarkan keimanan semata sebagai alat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam kecamannya terhadap paham reinkarnasi /(tanasukh al ruh). Ajaran-ajarannya dilandaskn secara kuat kepada AL Qur’an dan AL Sunnah.
2.      Tarekat Rifa’iyah
Tarekat Rifa’iyah didirikan oleh ahmad al Rifa’i (570 H / 1173 M) didorong oleh kondisi mengendornya hubungan antara cabang-cabang qodiriyah dan lahirnya rantingranting baru yang independen. Tarekat ini dinilai lebih fanatik, memiliki tradisi yang sangat ketat dalam mematikan hawa nafsu dan pelantikan-pelantikan yang luar biasa. Pengikutnya yang melakukan dzikir secara baik  akan dapat terbawa ke alam fana dalam keadaan fana’ itu bisa melakukan hal-hal yang menakjubkan seperti sihiq
3.      Tarekat Suhrowardiyah
Didirikan oleh Syihab al Din al Suhbowardi inspirasi seorang ahli dari maghrib, nur al din ahmad bin ‘abdullah al syadzali. Pengikutnya tersebar di Tunis- karena pemerintah mencemaskannya sang imam cenderung menyingkir ke alexanria di mesir keberhasilannya sangat cepat juga di afrika
4.      Tarekat Ahmadiyah / Badawiyah
Tarekat ini disebut juga tarekat badawiyah karena pendirinya bernama Ahmad bi ‘Aly al Husainy al Badawy
Tarekat ini sangat konsisten dengan Al Qur’an dan As Sunnah, ia sangat diminati karena antara lain : mendorong para pengikut / muridnya untuk pandai, kaya dan dermawan, saling mengasihi dan juga karena doktrin-doktrin sifistiknya yang menarik.
5.      Tarekat Mawlawiyah / al Rumiyah
Mawlana jalaludin rumi muhammad bin hasain al khattabi al kbakri (Jalaludin Rumi) atau sering juga disebut Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di balk (sekarang Afganistan).
Kesufian Rumidi mulai ketika ia sudah berumur cukup tua 48 tahun.
Rumi memang bukan sekedar penyair, tapi ia juga tokoh sufi ayng berpenaruh pada zamannya.
Rumi adalah guru nomor satu pada tarekat maulawiyah. Sebuah tarekat yang berpusat di turki dan berkembang disekitarnya. Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan-pendewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran.
Dalam sistem pengajarannya, Rumi mempergunakan penjelasan dan latihan mental, pemikiran dan meditasi, kerja dan bermain. Tindakan dan diam. Gerakan-gerakan tubuh pikiran dari pra darwis berputar dibarengi dengan musik toup untuk mengiringi gerakan-gerakan tersebut merupakan hasil dri metode khusus yang dirancang untuk membawa seseorang salik mencapai afinitas dengan arus mistis untuk ditransformasikan melalui cara ini.
6.      Tarekat Syadzaliyah
Abu Hasan al Syadzali mendirikan tarekat ini setalah ia mendaptkana khirqoh / ijazah dari gurunya abu ‘abdullah bin ali bin hazam dari abdullah ‘abd. Al salam bin majisy. Kelebihan dari tarekat ini terletak pada lima (5) ajaran pokoknya yaitu : takwa kepada Allah dalam segala keadaan. Konsisten dalam mengikuti al sunnah, ridho dalam ketentuan dan pemberian Allah SWT, menghormati sesama manusia, dan kembali kepada Allah (taubat) dalam susah/senang.
Sedangkan tiga hal pokok yang menjadi landasan/ azas tarekat ini adalah : mencari ilmu (belajar), memperbanyak Dzikrulah dan hduhur ilaallah. Ketiga hal pokok ini selalu menjadi penekanan kepada murid-murid al syadzali dia tidak menganjurkan mujahadah seperti tarekat-tarekat lain. Kebenaran baginya, didalam diri manusia itu ada nur ashli/ nur potensial yang akan menjadi kuat, berkembang dan subur bila diperkuat dengan nur ilmu yang lahir akibat dzikrullah.
Tarekat ini tidak mempredikan hal hal yang belum ataupun bakal terjadi dalam arti mengartikan segala kemungkinan dan akibat yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang. Doktrin ini diperdalam oleh ibn atho’illah dan menjadi doktrin utamanya. Syadzaliyah terutama mereka di kalangan kelas menengah, pengusaha, pejabat dan pegawai pemerintah. Oleh karenanya, ciri khas yang kemudian menonjol daro anggota tarekat ini adalah kerapihan mereka dalam berpakaian, ketenangan yang terpancar dari tulisan-tulisan para tokohnya.
Tarekat syadzaliyah ini tidak mentukan syarat-syarat yang erat kepada syaikh tariqoh, kecuali mereka harus meninggalkan segala perbuatan maksiat, memelihara segala ibadah-ibadah sunnah semampunya, zikir kepada Allah sebanyak mungkin, sekurang-kurangnya seribu kali sehari semalam dan beberapa zikir yang lain.
7.      Tarekat Tijaniyah
Didirikan oleh abul abbas ahmad bin Muhammad bin al mukhtar at tijani (1733-1815 M) salah seorang tokoh dari gerakan neosufisme. Ciri dari garakan ini ialah penolakannya terhadap sisi eksatik dan meta fisis sufisme dan lebih menyukai pengalaman secara ketat ketentuan-ketentuan syariat dan berupaya sekuat tenaga untuk menyatu dengan ruh nabi Muhammad sebagai ganti untuk menyatu dengan Allah.
8.      Tarekat Syattariyah
Tarekat syattariyah adalah tarekat yang pertama kali muncul di india abad XV M tarekat ini dinisbahkan pada tokoh yang berjasa dan mempopolerkannya, Abdullah asy syattar.
Sebagaimana hal tarekat-tarekat lain, syattariyah menonjolkan aspek dzikir di dalam ajarannya. Didalam tareka
t inii, dikenal 7 macam dzikir muqodimah sebagai peralatan/tangga untuk masuk kedalam tarekat syattariyah, yang disesuaikan dengan 7 nafsu pada manusia. Satu hal yang harus diingat bahwa dzikir hanya dapat dikuasai melalui bimbingan seorang pembimbing spiritual, guru/syaikh.
9.      Tarekat Naqsabandiyah
Pendirinya adalah Muhammad baha’ al din al naqsabandi al bukhori (717-791 H / 1317-1388 M). naqsabandiyah merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebarannya. Danterdapat banyak di wilayah asia muslim.
Diri yang menonjol dari tarekat ini ialah diikutinya syareat secara ketat, keseriusan dalam beribadah, melakukan penolakan terhadap music dan tari, serta lebih ngutamakan berdzikir dalam hati, dan kecenderungannya semakin kuat kearah keterlibatan dalam politik.
10.  Tarekat Kholwatiyah
Tarekat khalwatiyah, tidak sebagaimana lazimnya tarekat pada umumnya yang diambil dari nama pendirinya. Penamaan ini justru didasarkan kepada kebiasaan sang guru pendiri tarekat ini syekh Muhammad al khalwati (w 717 H), yang seringkali melakukan kholwat di tempat-tempat sepi. Tarekat khawaltiyah merupakan cabang dari tarekat As Sahidiyah, cabang dari al abhariyah dan cabang dari al shrowardiyah yang didirikan oleh syekh syihab al din abu hafsh ‘umar al suhrowardi al Baghdadi.
Ajaran dan dzikir tarekat khalwatiyah
Tarekat khalwatiyah menetapkan adanya sebuah amalan yang disebut al asma’ al sab’ah (tujuh nama) yakni tujuh macam dzikir /tujuh tingkatan jiwa yang harus dikembangkan oleh setiap salik
Dzikir pertama :    لا إله إلاالله
Dzikir kedua :  الله  
Dzikir ketiga :  هو (dia)
Dzikir keempat : حقّ (maha benar)
Dzikir kelima :  حيّ   (maha hidup)
Dzikir keenam :   قيوم   (maha jaga)
Dzikir ketujuh :  قهار   (maha perkasa)
Ketujuh tingkatan dzikir ini intina didasarkan pada ayat AL Qur’an
11.  Tarekat sammaniyah
Tarekat ini didirikan oleh sekh Muhammad bin abd al karim al samman al madani al qodiri al qubaisi dan lebih dikenal dengan panggilan samman. Semula ia belajar toriqoh kholwatiyah dari damaskus, lama kelamaan ia mulai membuka pengajian yang berisi teknik berdzikir, wirid dan ajaran teosofi lainnya. Ia menyusun cara pendekatan diri dengan Allah yang akhirnya disebut sebagai toriqoh sammaniyah, sehingga ada yang mengatakan bahwa toriqoh sammaniyah adalah cabang dari khalwatiyah.
Diindonesia tarekat ini berkembang di sumatera Kalimantan dan jawa. sammaniyah masuk ke Indonesia pada penghujung abad 18 yang banyak mendapat pengikut karena popularitas imam samman.
Ajarannya yang khas ialah memperbanyak dzikrullah dan shalat, lemah lembut kepada fakir miskin, tidak mencintai dunia, menukar akal masyariyah dangan akan robbaniyah dan mentawhidkan Allah dalam dzat, sifat dan af’ainnya. Pengaruh sammaniyah di Indonesia aiabadikan di dalam tariah ruda.
PENUTUP
KESIMPULAN
Tasawuf adalah perjalanan menuju Tuhan melalui penyucian jiwa yang dilakukan dengan intensifikasi dzikrul
lah”.Tarekat adalah beramal dengan syariat Islam secara azimah (memilih yang berat walau ada yang ringan, seperti rokok ada yang berpendapat haram dan makruh, maka lebih memilih yang haram) dengan mengerjakan semua perintah baik yang wajib atau sunah; meninggalkan larangan baik yang haram atau makruh bahkan menjauhi hal-hal yang mubah (boleh secara syariat) yang sia-sia (tidak bernilai manfaat; minimal manfaat duniawiah) yang semuanya ini dengan bimbingan dari seorang mursyid/guru guna menunjukan jalan yang aman dan selamat untuk menuju Allah (ma’rifatullah) maka posisi guru di sini adalah seperti seorang guide yang hafal jalan dan pernah melalui jalan itu sehingga jika kita dibimbingnya akan dipastikan kita tidak akan tersesat jalan dan sebaliknya jika kita berjalan sendiri dalam sebuah tujuan yang belum diketahui, maka kemungkinan besar kita akan tersesat apalagi jika kita tidak membawa peta petunjuk.
Daftar Pustaka
1.      Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya Dalam Islam,(Jakarta, RajaGrafindo Jaya Offset) 1997
2.      Qadir Abdul Isa, Hakekat Tasawuf, (Jakarta, Qisthi Press), 2015
3.      Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A. , Study Islam Komprehensif, (Jakarta, Prenamedia Group) 2015


[1] . Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A. , Study Islam Komprehensif, (Jakarta, Prenamedia Group, 2015) hal.311
[2]. Zakaria al-Anshari, Ta’liqat ‘ala ar-Risalah al-Qusyairiyyah
[3]. Abu Abbas Ahmad Zaruq al-Fasih, Qawa’id at-Tashawwuf
Continue Reading
Advertisement

Kabar Inspiratif

Advertisement

Trending